Pembagian Catatan Amal Perbuatan Manusia Diakhirat


Ilustrasi gambar : google image

Pembagian Buku Catatan Amal Manusia Di Akhirat - Ketika semua makhluk dikumpulkan dari permulaan penciptaan sampai yg terakhir disebuah tempat yang luas tak bertepi yaitu padang mahsyar untuk menunggu pengadilan dari Tuhan semesta alam, dengan berdesak desakan dan terik matahari yang sangat panas dan begitu lamanya menunggu penantian keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga manusia mengalami kesusahan dan mencapai kekritisan, yang mereka rasa tidak mampu lagi dan tidak bisa menanggungnya sehingga mereka mendatangi para Nabi untuk meminta syafaat, agar mereka memohonkan kepada Allah demi menyudahi keadaan mereka di makhsyar agar cepat diberi keputusan.

Mereka kemudian datang kepada Nabi Adam alaihissalam, namun beliau mengelaknya. Lalu mereka datang kepada Nuh, Ibrahim, Musa maupun Isa alaihimussalam. Namun mereka semua mengelak dan tidak kuasa memberikan syafaat, sebagaimana kisah lengkapnya yang panjang disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah Hingga akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad saw dan beliaulah yang bisa memberi syafaat untuk semua manusia kepada Allah, Hingga hari keputusan pun segera digelar.

Inilah yang disebut dengan syafa’atul ‘uzhma, syafaat agung dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk seluruh umat manusia.

Baca juga : Syafa'at Qubra Nabi Muhammad Saw Di Hari Kiamat

Detik-Detik Ketika Catatan Amal Dibagikan

Lepas dari kegerahan yang dahsyat, mereka memasuki saat-saat yang paling menegangkan. Di mana seluruh manusia dan jin dari seluruh zaman di tempatkan berkumpul dalam satu tempat yang datar hinga mereka dapat menyaksiakan satu dengan yang lainnya ,Tak ada hiruk pikuk atau suara keras meninggi meski kegelisahan dan kebingungan menjadi-jadi, hati berdebar tak menentu, karena menunggu keputusan dari Hakim Yang Seadil-adilnya.

“dan merendahlah semua suara kepada Yang Maha Pemurah,maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS Thaha 108)

Saat di mana manusia menunggu pembagian catatan nilai hasil usahanya di dunia, mereka tidak memikirkan apa dan siapapun kecuali nasib dirinya sendiri. Seperti  Sabda Rasulullah :

“Adapun dalam tiga situasi maka tak satupun ada orang yang mengingat orang lain; yakni ketika amal ditimbang sehingga dia tahu apakah timbangan kebaikannya berat ataukah ringan, ketika lembar catatan amal dibagi hingga ia tahu apakah catatan amalnya jatuh di tangan kanannya, tangan kirinya atau dari belakang punggung, dan tatkala meniti shirath yang terpancang di atas jahannam hingga ia melewatinya dengan selamat.” (HR Abu Dawud)

Ini menggambarkan manusia berada pada titik cemas dan kerisauan yang memuncak. Al-Hakim at-Tirmidzi dalam Nawadirul Ushulnya menyebutkan dengan landasan hadits tersebut bahwa itulah saat-saat paling menegangkan pada Hari Kiamat.

Hari di mana tatkala seseorang hendak menerima hasil catatan amalnya di dunia. Dan hasil itu akan menentukan apakah ia akan mendapatkan kenikmatan abadi, ataukah kesengsaraan tak terperikan.

Imam al-Qurthubi dalam kitabnya at-Tadzkirah memberikan gambaran yang beliau ramu dari dalil-dalil dan penjelasan para salaf, seperti apa ketegangan detik-detik pembagian catatan amal tersebut.

“Bayangkanlah dirimu wahai saudaraku. Ketika kamu menerima buku catatan amal, kamu dihadapkan untuk diberi balasan. Dan kamu dipanggil dengan namamu di hadapan para makhluk, “Di manakah fulan bin fulan? Marilah menghadap Allah Azza wa Jalla!” Sementara para malaikat membawamu dan mendekatkanmu kepada Allah. Kemiripan nama-nama lain dengan namamu juga ayahmu tidak menyulitkan malaikat ketika mereka tahu bahwa kamulah pemilik nama yang dipanggil tersebut. Ketika panggilan itu mengetuk hatimu, maka tahulah kamu bahwa yang dipanggil itu adalah dirimu. Lalu kamu akan menggigil ketakutan, tubuhmu gemetaran, roman mukamu berubah dan hatimu gelisah. Dibukakan barisan-barisan untuk laluan jalanmu menuju ke hadapan Rabbmu. Pandangan semua makhluk tertuju kepadamu, sedangkan kamu berada di hadapan mereka dalam keadaan takut dan gelisah.

Bayangkanlah dirimu saat kamu berada di hadapan Rabbmu, sedang tanganmu memegang buku catatan yang berisi seluruh informasi tentang amalmu. Tak meninggalkan sedikitpun apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu rahasiakan saat di dunia. Kamu membaca apa yang tertulis di dalamnya dengan lisan terbata-bata dan hati yang menangis. Ketakutan menyelimuti dirimu, dari depan dan belakangmu. Betapa banyak hal yang telah kamu lupakan, ternyata Allah mengingatkannya kepadamu. Betapa banyak keburukan yang telah kamu sembunyikan, ternyata Dia menampakkannya untukmu. Betapa banyak amalan yang kamu sangka dapat menyelamatkan dan membebaskanmu, namun ternyata Dia menolak amalan itu di hadapanmu, di tempat itu, setelah sebelumnya kamu berharap amal tersebut dapat menyelamatkan dan membebaskanmu. Padahal dahulu kamu menganggapnya besar. Duhai meruginya hatimu, duhai kasihan dirimu atas apa yang telah engkau sepelekan berupa ketaatan kepada Rabbmu.”

Dalil-dalil menunjukkan, ada tiga cara manusia menerima catatan amalnya.

Golongan Orang-orang yang menerima kitabnya dengan tangan kanan.

Ini adalah golongan yg beruntung Ia pantas berbangga ketika itu. Firman Allah Ta’ala,

“Adapun golongan orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini)”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. (QS. Al-Haqqah 20)

Ini menjadi pertanda keridhaan Allah atasnya, dan bahwa kesudahan ia nanti adalah kenikmatan jannah yang dirindukannya.

Golongan orang yang menerima kitabnya dengan tangan kiri,

sebagaimana firman Allah Ta’ala

"Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: 'Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu'." (QS. Al Haaqqah: 25-27)

Ini adalah isyarat kesengsaraan yang bakal dilalaui dan dialami. Ketika itu, para pendosa betul-betul terhenyak, malu sekeligus menyesal saat membaca catatan amal yang telah dibagi. Karena ternyata seluruh perbuatan buruknya terekam dengan sangat rapi dan jeli, tak ada yang tersisa sedikitpun baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Allah berfirman,

"ayat (7) Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. ayat (8) dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. Al Zalzalah (99) : 7-8)

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” (QS. Al-Kahfi: 49)

golongan orang yang menerima kitabnya dari belakang punggungnya.

Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: 'Celakalah aku'. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (QS. Al Insyiqaq: 7-12).

Ada beberapa pendapat para ulama tentang ‘dengan tangan kiri’ dan ‘melalui belakang punggungnya.” Imam al-Qurthubi menjelaskan, “maka pundak kirinya akan terlepas sehingga tangannya di belakangnya, lalu mengambil kitabnya dengannya.” Mujahid berkata, “Wajahnya bergeser ke tengkuknya, lalu membaca kitabnya dengan cara demikian.”

Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa mereka menerima kitab dengan tangan kiri kemudian tangannya memelintir ke belakang sebagai isyarat bahwa mereka telah dulu di dunia telah mencampakkan aturan-aturan al-Qur’an ke belakang punggung mereka. Mereka telah berpaling dari al-Qur’an, tidak mempedulikannya, tidak mengacuhkannya, dan merasa tidak ada masalah bila menyelisihnya.

Akhirnya, setelah masing-masing manusia menerima catatan amalnya, lalu dikatakan kepada masing-masing, “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung terhadapmu.” (QS. Al-Isro’: 13-14)

Pada saat itulah semua manusia akan teringat apa yang dulu telah ia lakukan. Semua tercatat dengan lengkap dan tiada kekeliruan sedikit pun. Di sinilah salah satu bukti keadilan Allah, karena menjadikan manusia sebagai penghisab atas apa yang telah ia lakukan sendiri. Dan ketika itu manusia tak kuasa memungkiri atas apa yang ada dalam catatan amalnya.

Moga kita termasuk golongan orang- orang yang beruntung yang menerima catatan amal dengan tangan kanan kelak, amiin ya rabbal alamin.


Tambahan :

Maka kiranya sebelum membaca catatan amal kita kelak di akhirat, alangkah bijak jika mulai hari ini kita mengisi catatan kita dengan kebaikan, dan juga menghapus catatan-catatan buruk dengan memperbanyak taubat dan memohon ampunan, wallahul muwaffiq. (Abu Umar Abdillah)

Wallahu a'lam bish-shawab (Hanya Allah yang Maha tahu kebenarannya/ kesesuaiannya)


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Pembagian Catatan Amal Perbuatan Manusia Diakhirat"