Yaumul Mizan, Timbangan Amal Manusia Di Akhirat


ilustrasi gambar : google image
Ditimbangnya Amal manusia Di Akhirat atau yang disebut Yaumul Mizan - Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.

Setelah manusia dibangkitkan pada hari kiamat, maka manusia akan di kumpulkan di padang mahsyar, Padang Mahsyar adalah tempat berkumpulnya seluruh manusia, di sana banyak proses-proses yang harus dilalui oleh manusia, seperti didekatkannya matahari di Padang Mahsyar, di timbangnya amalan manusia di Yaumul mizan, dibagikannya catatan amal di Yaumul hisab ,melewati jembatan siroth sampai nanti kita apakah masuk ke Neraka atau Syurganya Allah Swt.

Baca juga : Pembagian Catatan Amal Perbuatan Manusia Diakhirat

Sekarang kita membahas tentang Yaumul Mizan ( Timbangan amal), banyak dalil- dalil Alquran dan hadist menjelaskan tentang Yaumul Mizan, antara lain :

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat  perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung, Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal didalam neraka jahannam.” (QS. Al-Mukminun: 102-103)

Dalam ayat lain juga Allah Ta’ala berfirman:

“Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran, barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung, Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, karena mereka  mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9)

Dengan banyaknya dalil-dalil Alquran yang menjelaskan tentang Mizan (timbangan) sudah sudah jelaslah kiranya meyakinkan kita bahwa Mizan itu benar- benar adanya, dan mizan ini sangat akurat dalam menimbang, tidak lebih dan tidak kurang sedikitpun. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Pada hari Kiamat, mizan akan ditegakkan. Andaikan ia digunakan untuk menimbang langit dan bumi, niscaya ia akan tetap lapang. Maka Malaikat pun berkata, “Wahai Rabb-ku, untuk siapa timbangan ini?” Allah berfirman: “Untuk siapa saja dari hamba-hamba-Ku.” Maka Malaikat berkata, “Maha suci Engkau, tidaklah kami dapat beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam Silsilah As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 941).

Berapa Besar Ukuran Timbangan.
Mizan di hari Kiamat adalah sesuatu yang hakiki dan benar-benar ada. Ukurannya sangat besar, melebihi besarnya langit dan bumi. Seandainya langit dan bumi diletakkan dalam daun timbangannya, niscaya mizan tersebut akan tetap lapang / longgar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Pada hari Kiamat, mizan akan ditegakkan. Andaikan ia digunakan untuk menimbang langit dan bumi, niscaya ia akan tetap lapang. Maka Malaikat pun berkata, “Wahai Rabb-ku, untuk siapa timbangan ini?” Allah berfirman: “Untuk siapa saja dari hamba-hamba-Ku.” Maka Malaikat berkata, “Maha suci Engkau, tidaklah kami dapat beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.” (Shahih, HR.  al-Hakim dan dinilai shohih oleh imam Al-Hakim, Adz-Dzahabi, al-Albani, dll. (Silsilah As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 941).
.
Komentar para Ulama’:

قال أهل العلم : فمن رجحت حسناته على سيئاته فهو من أهل الجنة ومن رجحت سيئاته على حسناته استحق أن يعذَب في النار ومن تساوت حسناته وسيئاته كان من أهل الأعراف الذَين يكونون بين الجنة والنار لمدة على حسب ما يشاء الله عز وجل وفي النهاية يدخلون الجنة

Artinya:

Sebagian para Ulama’ berkata: “Barangsiapa yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya, maka ia termasuk ahlul Jannah, barangsiapa yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya maka ia termasuk ahli Neraka. Dan barangsiapa yang kebaikan dan keburukannya sama ketika di timbang, maka ia termasuk ahlul A’raf yaitu orang yang kemungkinan di masukkan ke Surga bisa jadi di masukkan ke Neraka, jika di Neraka maka ia akan disiksa dalam jangka waktu yang di kehendaki oleh Allah, namun pada akhirnya ia akan dimasukkan ke Surga.” (di sebutkan oleh Imam Thabari dalam Tafsirnya).

Mizan atau timbangan adalah alat untuk mengukur sesuatu berdasarkan berat dan ringan. Adapun mizan di akherat adalah sesuatu yang Allah letakkan pada hari Kiamat untuk menimbang amalan hamba-Nya. (Syarah Lum’atul I’tiqaad, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hal. 120)
.
Apa Saja Yang Akan Di Timbang Di Hari Kiamat ?

Ada beberapa pendapat dari Ulama, diantaranya :
Pendapat Pertama, Yang Ditimbang Adalah Amal

Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallohi wa bihamdihi dan Subhanallohil ‘Azhim.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6406, 6682, dan Muslim, 2694).

Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Hajar al-Ashqolani rahimahullah. Beliau berpendapat bahwa yang ditimbang adalah amal, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika ditimbang (di hari Kiamat) daripada akhlak yang mulia.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad, no. 270 dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shahiih al-Adab al-Mufrad, no. 204).
.
Pendapat Kedua, Yang Ditimbang Adalah Orangnya

Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah orangnya. Berat atau ringannya timbangan tergantung pada keimanannya, bukan berdasarkan ukuran tubuh, berat badannya, atau banyaknya daging yang ada di tubuh mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.”  Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Bacalah..

“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105). (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4729 dan Muslim, no. 2785)

Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat betisnya kecil. Tatkala ia mengambil ranting pohon untuk siwak, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang dan menyingkap pakaiannya, sehingga terlihatlah kedua telapak kaki dan betisnya yang kecil. Para sahabat yang melihatnya pun tertawa. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang sedang kalian tertawakan?” Para sahabat menjawab, “Kedua betisnya yang kecil, wahai Nabiyullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu di mizan nanti lebih berat dari pada gunung uhud.” (Shahih, HR. Ahmad dalam Musnad-nya, I/420-421 dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir, IX/75. Hadits ini dinilai shohih oleh Imam Al-Arna’ut dalam Tahqiq Musnad Ahmad, Al-Haitsami dalam Majma’ Zawa’id, dan al-Albani dalam Silsilah Ash-Shohihah, no. 3192).
.
Pendapat Ketiga, Yang Ditimbang Adalah Lembaran Catatan Amal

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat dimana ketika itu dibentangkan 99 gulungan catatan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’

Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithoqoh) yang di dalamnya terdapat kalimat:
.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Lalu Allah berfirman: ‘Hadirkan timbanganmu.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?,’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya.’
.
Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat Nama Allah.”
.
(Hadits diatas sanadnya Shahih, HR. Imam Tirmidzi, no. 2639, Ibnu Majah, no. 4300, Al-Hakim, 1/6, 529, dan Ahmad, no. II/213. Hadits ini dinilai shohih oleh Imam Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Al-Arna’ut, al-Albani, dll. (Silsilah Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 135)


Pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh al-Qurthubi. Beliau mengatakan, “Yang benar, mizan menimbang berat atau ringannya buku-buku yang berisikan catatan amal…” (At-Tadzkirah, hal. 313)

Adapun yang shahih bahwasanya ketiga-tiganya diatas adalah benar, karena semuanya terdapat didalam hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Tiga pendapat di atas tidak saling bertentangan satu sama lain. Sebagian orang ada yang ditimbang amalnya, sebagian yang lain ditimbang buku catatannya, dan sebagian yang lain ditimbang dirinya.

Syaikh Muhammad bin sholih al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa secara umum yang ditimbang adalah amal perbuatannya, karena kebanyakan dalil-dalil menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah amal perbuatan. Adapun timbangan buku catatan amal dan pelakunya, maka itu khusus untuk sebagian orang saja. (Syarah al-’Aqidah al-Wasithiyyah, hal. 390)

Amal yang dapat memberatkan timbangan
Ada beberapa amalan yang dapat memberatkan timbangan amal kebaikan kita sebagaimana Hadist-hadist Nabi , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Ada dua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan dan disenangi oleh Yang Maha Pengasih, (yaitu) Subhanallahi wa bihamdih subhanallahil’adzim.” ( H.R. Bukhari Muslim )

 “ Bersuci itu adalah separuh iman, dan Al Hamdulillah itu memenuhi timbangan.” ( H.R. Muslim).

Ibnul Jauzi dalam kitabnya Bustaan al waa'idzin wa Riyaadh al Saami'in menyebutkan Abu Hurairah Ra berkata : Rasulullah Saw Bersabda ," Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di Mizan dan dicintai al Rahman, ( kalimat itu adalah) Maha Suci Allah dan dengan segala pujian kepada-Nya. Maha Suci Dzat yang Maha Agung."

Ibnul Jauzi dalam kitabnya Bustaan al waa'idzin wa Riyaadh al Saami'in menyebutkan Diriwayatkan pula bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw. lantas dia berkata," Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu agar kamu mau mengajari sebuah ilmu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menyelamatkan aku dari neraka." Maka rasulullah Saw bersabda kepadanya," maukah kamu aku beritahu tentang dua buah kalimat yang bisa memberatkan mizan, ringan dilisan, membuat al Rahman menjadi ridha dan menyebabkan setan murka? (Hendaklah) kamu mengatakan Subhanallah Walhamdulillah. sesungguhnya kedua kalimat tersebut dapat mendekatkan (seseorang yang mengucapkannya) ke Surga dan menjauhi neraka."

Baca juga : Sejuknya Telaga Nabi Muhammad SAW Untuk Orang Beriman Di Akhirat Kelak

Wallahu a’lam bish-shawab  (Hanya Allah yang Maha tahu kebenarannya/ kesesuaiannya)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Yaumul Mizan, Timbangan Amal Manusia Di Akhirat"

Post a Comment