Kisah Inspiratif - Sebuah Sumur Angker

Kisah Inspiratif - Sebuah Sumur Angker


Disebuah desa ada sebuah sumur yang dianggap angker ... hal ini dikarenakan setiap kali penduduk desa ingin mengambil air... tali dan ember yang diulurkan kedalam sumur selalu ditarik ... beberapa ember bahkan terlepas dari talinya ... ada yang membuka simpul tali itu di dalam sumur sana ... sekian lama tidak diketahui penyebab kejadian aneh ini ...

Banyak penduduk desa menyimpulkan bahwa sumur itu dihuni oleh sesosok jin jahat yang suka mengganggu . Karena air merupakan kebutuhan vital penduduk .. tetua desa pun berkumpul ... melalui musyawarah diputuskan untuk menjawab teka teki sumur angker seseorang harus masuk kedalamnya ... tidak ada seorangpun penduduk desa yang berani untuk masuk kedalam sumur karena takut .. kecuali seorang pemuda ... ia bersedia dengan satu syarat ... saudara kandungnya harus ikut memegang tali ketika ia masuk kedalam . Orang2 bertanya " kenapa harus saudaramu ... disini juga banyak pemuda2 yang tegap lagi kuat ... saudaramu itu tinggal nya jauh dari desa kita ini ?? " ... pemuda itu tak bergeming ... karena tidak ada orang lain yang berani masuk ke dalam sumur , merekapun lalu menjemput saudara kandung pemuda itu ... Pagi itu ... setelah mengikat tubuhnya dengan tali si pemuda pun turun ke dalam sumur ... orang2 beramai2 memegang tali ... termasuk disana saudara kandung nya . Perlahan mereka menurunkan tubuh pemuda itu sehingga masuk ke dasar sumur .. semua menanti dengan hati berdebar . Di atas batu di dasar sumur ... si pemuda menemukan seekor monyet ... inilah sumber masalah nya selama ini ... ia lalu membawa monyet itu bersamanya dan berkata : " tarik talinya !" ... Dengan segera penduduk desa menarik tali pengikat tubuh si pemuda ... menjelang sampai ke permukaan sumur .. si monyet yang begitu senang melihat cahaya matahari terlepas dari pegangan pemuda ... memanjat sisa tali dan melompat keluar sumur .. dan .. karena kaget dengan sosok hewan ini .. dan rasa takut yang telah mencengkram hati ... penduduk desa berhamburan berlari melepas tali .. mereka mengira jin sudah merubah pemuda malang itu menjadi sesosok monyet ... semua lari kecuali saudara kandung pemuda itu ... ia tetap bertahan memegang tali dan dengan susah payah menarik tali menyelamatkan adiknya seorang diri 

.... fahamlah penduduk desa .. mengapa si pemuda begitu menginginkan kehadiran saudaranya . Tanpanya ... ia pasti sudah mati terlepas tali
Orang yang paling dekat dan terpercaya adalah saudara2 mu ... 

Semoga kita Saudara kandung tetap Saling sayang hingga Ahir hayat kita.seperti ibu & ayah yg menyayangi kita sjak kita di lahirkan hingga mereka tiada.

Semoga bermanfaat....


Read More
Kisah Hikmah - Anak Yang Malang

Kisah Hikmah - Anak Yang Malang


Seorang anak, menelepon Ayahnya yang tinggal pisah Rumah dgnnya dan ibunya. Pagi itu, ibunya sakit dan tidak bisa mengantar Anaknya ke sekolah seperti biasanya. Jarak sekolahnya 1KM Dari rumahnya, dan si anak bertubuh lemah.
Pagi itu jam 6:00 si anak menelepon ayahnya:
Read More
Rasulullah Dengan Selembar Tikar

Rasulullah Dengan Selembar Tikar


Pada suatu waktu Rasulullah saw. sedang tidur-tiduran di rumahnya melepas rasa lelah.

Dia berbaring di atas tikar yang terbuat dari daun-daun tamar yang dianyam.

Tiba-tiba seorang sahabatnya yang bernama Ibnu Mas’ud datang berkunjung.

Oleh karena Rasulullah saw waktu itu tidak memakai baju, maka terlihat jelas oleh Ibnu Mas’ud bekas anyaman tikar melekat pada punggung Rasulullah.

Melihat peristiwa itu Ibnu Mas’ud amat sedih, dan bendungan air matanya pun pecah berserakan. Sungguh-sungguh tidaklah pantas rasanya seorang Rasul kekasih Allah swt., seorang kepala negara dan seorang panglima tertinggi berhal seperti demikian.

Dengan terharu Ibnu Mas’ud berkata : “Ya, Rasulullah! Bolehkah saya membawakan sebuah kasur kemari untuk tuan?”

Mendengar ini Rasulullah saw. bersabda : “Apalah artinya kesenangan hidup di dunia ini bagiku. Perumpamaan hidup di dunia ini bagiku tidak ubahnya seperti seorang musafir dalam perjalanan jauh yang singgah berteduh dibawah pohon kayu yang rindang untuk melepaskan rasa lelah. Kemudian dia harus berangkat meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanan yang sangat jauh tidak berujung.”


(Ini murni bukan cerita yang saya tulis sendiri, saya mengcopy pate disuatu aplikasi cerita dengan tujuan hanya ingin mengshare cerita ini untuk kebaikan. Semoga mendapat hikmah dan menambah wawasan keislaman kita)

Read More
Khalifah Umar Bin Khattab Dengan Nenek Tua.

Khalifah Umar Bin Khattab Dengan Nenek Tua.


Pada suatu hari Khalifah Umar Al-Khatab baru saja pulang dari melawat negeri Syria. Seperti biasa Saiyidina Umar akan berjalan-jalan dan meninjau sekitar kawasan untuk melihat keadaan rakyat jelata untuk mengetahui sendiri akan penderitaan mereka. Pada kali ini Saiyidina Umar menuju ke sebuah pondok buruk yang didiami oleh seorang nenek tua.

Saiyidina Umar pergi ke rumah nenek tersebut dengan menyamar sebagai orang biasa. Sudah menjadi kebiasaan kepada Khalifah Umar menyamar menjadi orang awam kerana beliau ingin melihat sendiri akan penderitaan yang di alami oleh rakyatnya dan ingin mendapat maklumat atau pandangan rakyat terhadapnya. Apabila tiba di rumah nenek tersebut Khalifah memberi salam dan berkata. “Adakah nenek mendengar apa-apa berita tentang Umar?”. jawab nenek tua itu “Kabarnya Umar baru saja pulang dari Syria dengan selamat”. Kata khalifah lagi “Bagaimana pendapat nenek tentang khalifah kita itu”. Jawab nenek “Semoga Allah tidak memberi ganjaran baik kepadanya”. Umar bertanya lagi ” Mengapa nenek berkata demikian?”.

Jawab nenek “Ia sangat jauh dari rakyatnya. Semenjak menjadi khalifah dia belum pernah menjenguk pondok aku ini apatah lagi memberi uang”. Jawab Umar “Bagaimana mungkin dia dapat mengetahui keadaan nenek sedangkan tempat ini jauh terpencil” Nenek mengeluh dan berkata “Subhanallah! tidak mungkin seorang khalifah tidak mengetahui akan keadaan rakyatnya walau dimana mereka berada”.

Mendengar kata-kata tadi Khalifah Umar tersentak lalu berkata didalam hatinya “Celakalah aku kerana semua orang dan nenek ini pun mengetahui perihal diriku”. Sayyidina Umar menyesal sambil menitiskan air mata. Saiyidina Umar berkata lagi “Wahai nenek, berapakah kamu hendak menjual kezaliman Umar terhadap nenek?. Saya kasihan kalau Umar mati nanti akan masuk neraka. Itu pun kalau nenek mahu menjualnya”. Kata nenek “Jangan engkau berguaru dengan aku yang sudah tua ini”.

Sambung Umar lagi “Saya tidak bergurau, saya betul-betul ini, berapakah nenek akan menjualnya. Saya akan menebus dosanya, mahukah nenek menerima uang sebayak 25 dinar sebagai harga kezalimanya terhadap nenek” sambil menyerahkan wang tersebut kepada nenek. “Terima kasih nak, baik benar budi mu” kata nenek sambil mengambil wang tersebut.

Sementara itu Saiyidina Ali Abu Talib bersama Abdullah bin Mas’ud lalu di kawasan itu. Melihat Khalifah Umar berada disitu, mereka pun memberi salam. “Assalamualaikum ya Amirul Mukminin”. mendengar ucapan tersebut, tahulah nenek bahwa tamu yang berbicara dengannya sebentar tadi adalah Khalifah Umar Al-Khatab. Dengan perasaan takut dan gementar nenek berkata “Masya Allah, celakalah aku dan ampunilah nenek diatas kelancangan nenek tadi ya Amirul Mukminin. Nenek telah memaki Khalifah Umar dihadapan tuan sendiri”. Rantapan nenek telah menyadarkan Saiyidina Umar.

“Tak apa-apa nek, mudah-mudah Allah memberi rahmat kepada nenek” kata Sayyidina Umar. Ketika itu juga Khalifah Umar telah membuka bajunya dan menulis keterangan berikut diatas bajunya.

“Bismillahirrahmanirrahim,
Dengan ini Umar telah menebus dosanya atas kezalimannya terhadap seorang nenek yang merasa dirinya dizalimi oleh Umar, semenjak menjadi khalifah sehingga ditebusnya dosa itu dengan 25 dinar. Dengan ini jika perempuan itu mendakwa Umar di hari Mahsyar, maka Umar sudah bebas dan tidak bersangkut paut lagi”.

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh Sayyidina Ali bin Abu Talib dan di saksikan oleh Abdullah bin Mas’ud. Baju tersebut diserahkan kepada Abdullah bin Mas’ud sambil berkata “Simpahlah baju ini dan jika aku mati masukkan kedalam kain kafanku untuk dibawa mengadap Allah s.w.t.”.

Sumber:
Kumpulan Kisah-kisah Teladan.
Read More
Wanita Pemerah Susu Dan Anak gadisnya

Wanita Pemerah Susu Dan Anak gadisnya


Pada zaman pemerintahan Umar bin Khaththab hiduplah seorang janda miskin bersama seorang anak gadisnya disebuah gubuk tua di pinggiran kota Mekah. keduanya sangat rajin beribadah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka  sehari-hari. Setiap pagi,selesai shalat subuh, keduanya memerah susu kambinfg di kandang. Penduduk kota Mekah banyak yang menyukai susu kambing wanita itu karena mutunya yang baik.

Pada suatu malam, khalifah Umar ditemani pengawalnya berkeliling negeri untuk melihat dari dekat keadaan hidup dan kesejahteraan rakyatnya. setelah beberapa saat berkeliling, sampailah khalifah dipinggiran kota Mekah.

Beliau tertarik melihat sebuah gubuk kecil dengan cahaya yang masih tampak dari dalamnya menandakan bahwa penghuninya belum tidur. Khalifah turun dari kudanya, lalu  mendekati gubuk itu. samar-samar telinganya mendengar percakapan seorang wanita dengan anaknya.
"Anakku, malam ini kambing kita hanya mengeluarkan susu sedikit sekali. ini tidak cukup memenuhu kebutuhan pelanggan  kita besok pagi" keluh wanita itu kepada anaknya, dengan tersenyum, anak gadisnya yang beranjak dewasa itu menghibur, "ibu, tidak usah disesali. inilah rezeki yang diberikan Allah kepada kita hari ini. semoga besok kambing kita mengeluarkan susu yang lebih banyak lagi."

"Tapi, aku khawatir para pelanggan kita tidak mau membeli susu kepada kita lagi. Bagaimana kalau susu itu kita campur dengan air supaya kelihatan banyak"

"Jangan, Bu!" gadis itu melarang."Bagaimanapun kita tidak boleh berbuat curang. Lebih baik kita katakan dengan jujur bahwa hasil susu hari ini hanya sedikit. Mereka tentu akan memaklumi. Lagi pula kalau ketahuan kita akan dihukum oleh Khalifah Umar. Percayalah ketidakjujuran itu akan menyiksa hati."

Dari luar gubuk itu. Khalifah Umar semakin penasaran dan ingin terus mendengar kelanjutan percakapan antara janda dan anak gadisnya itu.

"Bagaimana mungkin Khalifah Umar tahu!" kata janda itu kepada anaknya "saar ini beliau sedang tertidur pulas di istananya yang megah tanpa pernah mengalami kesulitan seperti kita?"

Melihat ibunya masih tetap bersikeras dengan alasannya, gadis remaja itu tersenyum lembut dan berkata "ibu, memang khalifah tidak melihat apa yang kita lakukan sekarang.Tapi, Allah maha melihat setiap garak-gerik makhluknya. Meskipun kita miskin, jangan sampai kita melakukan yang dimurkai Allah."

Dari luar gubuk, khalifah tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Beliau benar-benar kagum dengan kejujurannya. ternyata kemiskinan dan himpitan keadaan tidak membuatnya terpengaruh untuk berbuat curang. Setelah itu Khalifah mengajak pengawalnya pulang.

Keesokkan harinya, Umar memerintahkan beberapa orang untuk menjemput wanita pemerah susu dan anak gadisnya untuk menghadap kepadaya. Beliau ternyata bermaksud menikahkan putranya dengan gadis jujur itu.

Sungguh sebuah teladan bagi kita semua, bahwa kejujuran yang takut karena Allah adalah suatu harta yang tak ternilai hargaya. Mungkin ini yang sulit kita dapatkan sekarang.

(Ini murni bukan cerita yang saya tulis sendiri, saya mengcopy paste disuatu aplikasi cerita dengan tujuan hanya ingin mengshare cerita ini untuk kebaikan. Semoga mendapat hikmah dan menambah wawasan keislaman kita) 

Read More
Kisah Rasulullah Dan Pengemis Yahudi Yang Buta

Kisah Rasulullah Dan Pengemis Yahudi Yang Buta



Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Read More
Kisah Gubernur Dan Tulang Busuk

Kisah Gubernur Dan Tulang Busuk


Setelah tidak lagi bergabung dengan tentara Muslimin, Amr bin Ash dipercaya Khalifah Umar bin Khattab menjadi gubernur Mesir. Menjadi pemimpin umat Islam di sana, serta berdakwah mengajak kepada siapa saja untuk beriman kepada Allah SWT.
Read More
Sebuah Nasehat Untuk Direnungkan, Ketika ajal datang saat itu juga semua keduniaanmu berakhir.

Sebuah Nasehat Untuk Direnungkan, Ketika ajal datang saat itu juga semua keduniaanmu berakhir.




Jika engkau telah dibaringkan di kuburmu.. dan engkau telah menghadap Rabbmu.

Maka tidak akan berguna lagi pujian dan sanjungan manusia kepadamu.

Tidak ada faedahnya lagi harta benda yg dengan banting tulang kau kumpulkan.. kecuali apa yg telah kau infakkan dlm kebaikan.

Tidak akan bermanfaat lagi banyaknya orang yg bertepuk tangan untukmu.

Tidak akan ada efeknya lagi banyaknya like pada statusmu, begitu pula banyaknya teman dan followermu.

Yang nantinya akan bermanfaat dan berguna bagimu adalah:

Sujud yg kau sembunyikan.. Linangan air mata yg kau teteskan krn takut kepada Allah.. Amal jariyah yg kau salurkan utk agama Allah.. Bacaan Quran dan dzikir yg kau lirihkan krn dorongan keikhlasan.. Uluran tanganmu dlm membantu dan meringankan beban hidup orang lain.. Dan amal shaleh apapun yg kau lakukan dg keikhlasan yg sebenarnya.

Oleh karenanya, jadikanlah akherat sebagai tujuan hidupmu.. itulah yg akan selamanya kau nikmati di alam baka.. semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.


Read More
Siapakah Yang Lebih Ria?

Siapakah Yang Lebih Ria?


NASEHAT INDAH UNTUK KITA RENUNGKAN...
Ketika kita hanya mampu membeli tas tangan seharga Rp 500 ribu sementara kawan kita membeli tas tangan seharga Rp 5 juta, kita bilang kawan kita berlebihan. Padahal ia belanja tak pakai uang kita.
Ternyata ia sudah berhemat untuk tidak membeli tas seharga Rp 40 juta yang sanggup ia beli.
Read More
Kisah Inspirasi - Bakti Luar Biasa Seorang Anak Kepada Ibunya

Kisah Inspirasi - Bakti Luar Biasa Seorang Anak Kepada Ibunya


SEBUAH KISAH NYATA...

Salah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya.
Dokter itu memulai ceritanya dengan mengatakan : 

“Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usia ke ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit. Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya…

Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang ku ajukan.

Pemuda itu menjawab :
“Dia ibuku, dan memiliki keterbelakangan mental sejak aku lahir”
Keingintahuanku mendorongku untuk bertanya lagi : “Siapa yang merawatnya?”
Ia menjawab : “Aku”

Aku bertanya lagi : “Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya?”
Ia menjawab : “Aku suruh beliau masuk ke kamar mandi dan aku membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai. Aku yang melipat dan menyusun bajunya di lemari. Aku masukkan pakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya”

Aku bertanya : “Mengapa engkau tidak mencarikan untuknya pembantu?”
Ia menjawab : “Karena ibuku tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, aku khawatir pembantu tidak memperhatikannya dengan baik dan tidak dapat memahaminya, sementara aku sangat paham dengan ibuku”
Aku terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar..

Aku pun bertanya : “Apakah engkau sudah beristri?”
Ia menjawab : “Alhamdulillah, aku sudah beristri dan punya beberapa anak”
Aku berkomentar : “Kalau begitu berarti istrimu juga ikut merawat ibumu?”

Ia menjawab : “Istriku membantu semampunya, dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibuku. Aku telah mendatangkan pembantu untuk istriku agar dapat membantu pekerjaannya. Akan tetapi aku berusaha selalu untuk makan bersama ibuku supaya dapat mengontrol kadar gula darahnya".
Aku Tanya : “Memangnya ibumu juga terkena penyakit Gula?”
Ia menjawab : “Ya...Dan aku selalu mengontrolnya agar stabil..

Aku semakin takjub dengan pemuda ini dan aku berusaha menahan air mataku…
Aku mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan aku dapati kukunya pendek dan bersih.
Aku bertanya lagi : “Siapa yang memotong kuku-kukunya?”

Ia menjawab : “Aku Dokter...Ibuku tidak dapat melakukan apa-apa”

Tiba-tiba sang ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : “Kapan engkau akan membelikan untukku kentang?”

Ia menjawab : “Tenanglah ibu, sekarang kita akan pergi ke kedai”
Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : “Sekarang…Sekarang!”
Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata : “Demi Allah, kebahagiaanku melihat ibuku gembira lebih besar dari kebahagiaanku melihat anak-anakku gembira…”

Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya…dan aku pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya.
Lalu aku bertanya lagi : “Apakah anda punya saudara?”

Ia menjawab : “Aku putranya semata wayang, karena ayahku menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka”
Aku bertanya : “Jadi anda dirawat ayah?”

Ia menjawab : “Tidak, tapi nenek yang merawatku dan ibuku. Nenek telah meninggal – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – saat aku berusia 10 tahun”

Aku bertanya : “Apakah ibumu merawatmu saat anda sakit, atau ingatkah anda bahwa ibu pernah memperhatikan anda? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan anda, atau sedih karena kesedihan anda?”

Ia menjawab : “Dokter…sejak aku lahir ibu tidak mengerti apa-apa…kasihan dia…dan aku sudah merawatnya sejak usiaku 10 tahun”

Aku pun menuliskan resep serta menjelaskannya…
Ia memegang tangan ibunya dan berkata : “Mari kita ke kedai..”
Ibunya menjawab : “Tidak, aku sekarang mau ke Mekah saja!”
Aku heran mendengar ucapan ibu tersebut…

Maka aku bertanya padanya : “Mengapa ibu ingin pergi ke Mekah?”
Ibu itu menjawab dengan girang : “Agar aku bisa naik pesawat!”
Aku pun bertanya pada putranya : “Apakah anda akan benar-benar membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Tentu…aku akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini”

Aku katakan pada pemuda itu : “Tidak ada kewajiban Umrah bagi ibu anda…lalu mengapa anda mau membawanya ke Mekah?”

Ia menjawab : “Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat aku membawanya ke Mekah akan membuat pahalaku lebih besar daripada aku pergi Umrah tanpa membawa ibuku".

Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktekku.

Aku pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruanganku dengan alasan aku ingin istirahat…
Padahal sebenarnya aku tidak tahan lagi menahan tangis haru…

Aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku…
Aku berkata dalam diriku : “Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tidak pernah menjadi ibu sepenuhnya…
Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu…

Ibunya tidak pernah merawatnya…
Tidak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang…
Tidak pernah menyuapinya ketika masih kecil…
Tidak pernah begadang malam…
Tidak pernah mengajarinya…
Tidak pernah sedih karenanya…
Tidak pernah menangis untuknya…
Tidak pernah tertawa melihat kelucuannya…
Tidak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya…
Tidak pernah….dan tidak pernah…!

Walaupun demikian…Pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu. Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat, seperti bakti pemuda itu pada ibunya?

Subhanallah...


Read More
Kisah Inspirasi - Seorang Anak Yang Membuat Ayahnya Takjub

Kisah Inspirasi - Seorang Anak Yang Membuat Ayahnya Takjub



Diceritakan oleh seorang Khatib ketika Khutbah Jum'at:

Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yg kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah, karena uangnya berlimpah.
Read More