Kisah Nabi Muhammad Dan Abu Bakar Bersembunyi Di Gua Tsur


Kisah Nabi - Malam yang gelap gulita dan dingin yang menusuk sampai ke sumsum terdalam, di luar rumah sekelompok orang-orang Quraisy dengan pedang dan tombak tampak seperti tentara yang sedang patroli mengitari rumah yang di tempati Rasulullah SAW bersama Abu Bakr r.a dan Ali bin Abu Thalib r.a. Orang-orang quraisy itu memang sedang patroli mengepung rumah Rasulullah SAW, mereka telah berencana akan menangkap bahkan akan membunuh Rasulullah SAW tetapi mereka masih menunggu komando dari pimpinan mereka Abu Jahal.

Sementara di dalam rumah, Ali bin Abi Thalib r.a berbaring di atas tempat tidur Rasulullah sesuai perintah Rasul Ali menggantikan Rasulullah malam itu di tempat tidur dan memakai selimut yang biasa digunakan Rasulullah. Rasulullah bersama Abu Bakr bersiap ke luar rumah yang dijaga ketat oleh tentara Quraisy. Saat Rasulullah dan Abu Bakr keluar dari rumah Allah Azza wa Jalla membuat para tentara Quraisy tertidur pulas dan Rasulpun bisa pergi dengan selamat.

Malam semakin larut dan dingin semakin bertambah, Rasulullah dan Abu Bakr berjalan menapaki padang pasir kota Makkah menuju arah selatan untuk hijrah ke Madinah. Sementara di rumah Rasul para tentara Quraisy terbangun dan telah mendapat komando untuk mengeksekusi Rasulullah, ketika masuk ke kamar Rasulullah mereka girang melihat masih ada orang yang berbaring di tempat tidur, namun ketika selimut diangkat ternyata mereka hanya mendapati Ali yang sedang tidur. Tentara Quraisy bingung dan pimpinan mereka marah, lalu tentara Quraisy melakukan pengejaran.

Malam memang sangat gelap gulitanya, namun Rasulullah adalah cahaya yang berjalan dimalam gelap itu. Bersama Abu Bakr Rasulullah berjalan menuju Gua Tsur, Rasulullah dan Abu Bakr bersembunyi selama tiga hari di Gua Tsur, hanya ada empat orang yang mengetahui keberadaan mereka di gua itu yaitu Abdullah bin Abu Bakr, Aisyah dan Asma (puteri-puteri Abu Bakr), serta pembantu mereka ‘Amir bin Fuhaira. Bila hari sudah sore Asma, datang membawakan makanan buat mereka. Abdullah bin Abu Bakr setiap hari berada di tengah-tengah Quraisy untuk memantau perkembangan yang terjadi untuk disampaikan pada beliau pada malam harinya. ‘Amir tugasnya menggembalakan kambing Abu Bakr’, memerah susu dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah bin Abi Bakr kembali dari tempat mereka bersembunyi di gua itu, datang ‘Amir mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejaknya. Setiap Sore Asma binti Abu Bakr datang membawakan makanan untuk Rasulullah dan Ayahnya, Asma membelah kain ikat pinggangnya menjadi dua lalu yang sebelahnya digunakan untuk menggantungkan makanan sehingga Asma dijuluki “dhat’n-nitaqain” (yang bersabuk dua).

Di dalam gua Rasulullah tertidur di pangkuan Abu Bakr, seekor ular tanah yang sangat berbisa menjalar di kaki Abu Bakr, namun karena kecintaannya kapada Rasulullah Abu Bakr tidak bergerak sedikitpun agar Rasulullah tidak terbangun dari istirahatnya. Hingga akhirnya ular tersebut mematuk kai Abu Bakr, Abu Bakr menangis menahan perihnya bisa ular. Tak lama kemudian Rasulullah terbangun, setelah mengetahui Abu Bakr digigit ular, Rasulullah mengusap bekas gigitan ular itu dengan ibu jarinya dan dengan izin Allah SWT bisa ular itu jadi tawar seketika.

Tentara Quraisy terus melakukan pengejaran dan pencarian terhadapa Rasulullah, para pemuda Quraisy dengan pedang dan tombak itupun sampai di mulut gua Tsur tempat Rasullah dan Abu Bakr bersembunyi. Tetapi mereka tidak melihat ke dalam gua karena di mulut gua itu ada sarang laba-laba dan burung merpati hutan yang sedang bertelur, mereka berfikir kalo ada orang yang masuk ke dalam gua pasti sarang laba-laba yang sudah ada sejak lama itu jadi rusak dan tentu tidak akan ada burung merpati yang bertelur disana. Begitulah, Allah SWT melindungi Rasulullah dan Abu Bakr dengan memerintahkan laba-laba dan merpati untuk mengelabui tentara Quraisy.

“Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy) itu berkomplot membuat rencana terhadap kamu, hendak menangkap kamu, atau membunuh kamu, atau mengusir kamu. Mereka membuat rencana dan Allah membuat rencana pula. Allah adalah Perencana terbaik.” (Al-Quran surat Al-Anfal:30)“Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka Allah juga Yang telah menolongnya tatkala dia diusir oleh orang-orang kafir (Quraisy). Dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu itu ia berkata kepada temannya itu: ‘Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!’ Maka Tuhan lalu memberikan ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang tidak kamu lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu juga yang rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Perkasa dan Bijaksana.” (Al-Quran surat At-Taubah:40)

Setelah tiga hari berada di Gua Tsur keadaan sudah mulai tenang. Rasulullah dan Abu Bakr keluar dari gua untuk melanjutkan perjalanan hijrah menuju Yastrib (Madinah). Orang-orang Quarisy masih terus memburu mereka, untuk menghindari sergapan tentara Quraisy Rasulullah dan Abu Bakr mengambil jalan lain yang tidak biasa dilalui orang, ditemani oleh seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqit dari Banu Du’il, Rasulullah berjalan ke arah selatan menuju Tihama dekat pesisir Laut Merah.

Rasulullah bersama Abu Bakr dan Abdullah bin Uraiqit terus berjalan pagi, sore, siang dan malam. perjalan siang dilewati di bawah teriknya matahari padang pasir yang membakar, mereka terus berjalan bersama dalam dinginnya udara gurun di malam hari.

Di Kota Makkah para pembesar Quraisy telah mendapatkan informasi tentang adanya tiga orang di tengah padang pasir yang berjalan menuju selatan, para pembesar Quraisy mengadakan Sayembara bagi siapa yang dapat menangkap Muhammad akan diberikan hadiah seratus ekor unta betina. Tersebutlah seorang bernama Suraqah bin Malik yang sangat berhasrat menangkap Rasulullah seorang diri. Suraqah mengatakan bahwa tiga orang di tengah gurun itu bukanlah Muhammad untuk mengelabui orang lain agar dia bisa mendapatkan hadiah seratus ekor unta seorang diri.

Suraqah kemudian memacu kudanya menuju selatan untuk mengejar Rasulullah, tepat sekali, Suraqah menemukan Rasul di tengah padang pasir, di benaknya telah ia bayangkan akan mendapat hadiah yang dijanjikan oleh Abu Jahal pimpinan kafir Quraisy. Suraqah memacu kudanya semakin cepat, tapi apa yang terjadi, beberapa kali kudanya tersungkur dan kakinya kaku. Suraqah terus memacu kudanya yang terus tersungkur sampai dekat dengan rombongan Rasulullah. Ketika sudah sangat dekat dengan Rasulullah kudanya kembali tersungkur, Surakah mengambil panah, akan tetapi Suraqah tidak bisa membidik Rasulullah karena tangannya tiba-tiba kaku.Suraqah menyerah dan berteriak "Kalian boleh mengambil hartaku, akan tetapi tolong bebaskan kekakuan tubuhku ini, dan aku akan menghalangi setiap orang yang mengejar kalian"Rasulullah menjawab "Aku tidak butuh hartamu, tapi tolong kau halangi orang yang mengejar kami""baiklah" jawab Suraqah. Rasulullah kemudian berdo'a ke hadirat Allah dan tubuh Suraqah serta kudanya kembali sehat dan bebas dari kaku.Setelah bebas Suraqah menyatakan keimanannya dan berjanji akan menyuruh semua orang yang mengejar rasulullah untuk menghentikan pengejaran. Atas perintah Rasulullah waktu itu Abu Bakr menuliskan sebuah perjanjian diatas tulang dan memberikannya pada Suraqah.

Rasulullah berjalan selama tujuh hari berturut-turut,Selama tujuh hari terus-menerus rombongan Rasulullah Saw berjalan, di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi dinginnya badai padang pasir dengan perasaan kuatir. Hanya karena adanya iman kepada Allah Swt membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman.

Ketika sudah memasuki daerah kabilah Banu Sahm dan datang pula Buraida kepala kabilah itu menyambut mereka, barulah perasaan kuatir dalam hatinya mulai hilang. Jarak mereka dengan Yastrib kini sudah dekat.

Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Rasulullah dan sahabatnya yang akan menyusul kawan-kawan yang lain, sudah tersiar di Yastrib. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari Quraisy yang terus-menerus memburu mereka. Oleh karena itu semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka itu yang belum pernah melihatnya, meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu, ingin melihatnya.

Rombongan Rasulullah sampai di sebuah desa bernama Quba, disana Rasulullah dan rombongan beristirahat, Rasulullah kemudian mendirikan Masjid Quba, di Quba inilah Ali bin Abi Thalib datang menyusul perjalan hijrah ke Madinah (Yastrib).

Setelah tinggal di Quba selama empat hari, Rasulullah melanjutkan perjalan dan akhirnya sampailah rasulullah di Yastrib (Madinah). Hari itu adalah hari jum'at.

Rasulullah berada di Madinah selama lebih kurang Sepuluh tahun, dan kembali ke Makkah setelah penaklukkan Makkah oleh kaum Muslimin (Fathu Makkah), rasulullah tidak dendam kepada oramng-orang yang dulu mengusir dan membencinya bahkan akan membunuhnya. Rasulullah membebaskan mereka tanpa adanya kekerasan sedikitpun yang diterima oleh warga Makkah, kelembutan rasulullah ini membuat penduduk Makkah berbondong-bondong masuk Islam dan mengimani ajaran islam yang dibawa Rasulullah.

Rasulullah mengatakan "La hijrata ba'da Fathu- tidak ada lagi Hijrah setelah Fathu Makkah".

Wallahu A'laam

Kisah nabi

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Nabi Muhammad Dan Abu Bakar Bersembunyi Di Gua Tsur"

Post a Comment