Dear Anakku


Mari sejenak merenung, menghisab diri, apakah kita sudah menjadi orangtua yang baik bagi mereka, buah hati kita :

Dear Anakku...
Maafkan Ayah Bunda ya nak, sering memarahimu, membentakmu, menghardikmu, bahkan main tangan, hanya karena kenakalan khas anak-anak yang kalian lakukan, padahal waktu kami seusia kalian, hal yang sama juga kami lakukan.

Dear Anakku...
Maafkan Ayah ya nak, seringkali bekerja hingga larut, tak sempat menyapa apalagi bertanya bagaimana sekolahmu hari ini, bagaimana ibadahmu hari ini, bagaimana perasaanmu hari ini, bahagia, lara atau bahkan putus asa...

Dear Anakku...
Maafkan bunda ya nak, menjadikanmu objek, bukan subjek. Mengkompetisikan kalian dengan anak-anak teman bunda, membanding-bandingkan, bahkan untuk mencari kebanggaan diantara sahabat dan teman, bunda tega memaksa kalian les ini itu, bimbel ini itu, lomba ini itu...walaupun sebenarnya hati kecil kalian menolak, tapi kalian tak berani berteriak karena takut Bunda bilang anak durhaka.

Dear Anakku...
Maafkan Ayah Bunda ya nak, seringkali memperlakukan kalian lebih buruk dibanding memperlakukan sahabat kami, kolega kami, kenalan kami...padahal mereka hanya sesekali bertemu, sedangkan kalian adalah investasi dunia akhirat kami, namun kadang kami lalai merawatnya.

Dear Anakku...
Maafkan Ayah Bunda telah memanjakan kalian dengan materi, uang jajan berlebih, mainan mahal, gadget terkini, padahal yang kalian butuhkan hanya kasih sayang tulus, kasih sayang yang serius, bukan sambilan ditengah padatnya kesibukan kami mengejar dunia.

Dear Anakku...
Maafkan Ayah ya nak, punya keinginan menjadikan kalian anak sholih, namun kami jarang mencontohkan apa kesholihan itu ; kami jarang mengajak kalian sholat berjamaah di masjid, kami jarang memantau perkembangan hafalan Qur'an kalian, bahkan kami sendiripun tidak ikut menghafal dengan alasan tak ada waktu. Kami juga jarang mengajak kalian menghadiri pengajian, karena kaki kami pun berat melangkah kesana, karena alasan yang sama, lelah dan tak ada waktu.

Dear Anakku...
Maafkan Bunda ya nak, seringkali lupa mencontohkan bagaimana seorang muslimah bersikap, bertutur kata, juga bagaimana seorang muslimah seharusnya menutup aurat dengan benar...kami lebih sibuk mengikuti perkembangan fashion, trend busana kekinian, perawatan kecantikan, namun lupa memberitahu, itu semua hanyalah kemasan luar, isi jauh lebih utama.

Dear Anakku...
Maafkan Ayah Bunda, lebih senang dan asyik dengan medsos yg kami punya, Sibuk dengan Pesbuk, Bersemayam dengan instagram, merapat dengan Path, keblinger dengan twitter, bermain-main dengan Line, bercakap-cakap dengan Whatsapp, tergoda oleh Lazada, sangat kompak dengan bukalapak, serius denga kaskus...Smartphone dan gadget sudah seperti kitab suci, yang wajib dibuka dan dibaca setiap hari...Sedangkan kalian nak...ah, kalian cuma pengganggu keasyikan kami, tidak penting...Sungguh Maafkan kami Ayah Bunda nak, maafkan...

Dear Anakku...
Maafkan kami yang belum bisa menjadi orangtua yang baik, yang mengerti...belum bisa menjadi tempat curhat yang nyaman, tempat mengadu yang aman, tempat mencari perlindungan dari segala gangguan...kami baru bisa menjadi orangtua biologis, orangtua takdir, yang mungkin jika kalian bisa memilih, kalian akan memilih sosok lain yang dapat kalian jadikan panutan.

Sahabatku...setelah membaca tulisan ini, segera hampiri dan peluk buah hati kita, bisikkan kepada mereka...nak, maafkan kami... kami janji akan berubah, tolong bantu Ayah Bunda untuk menjadi lebih baik.

Semoga menjadi pengingat, terutama untuk diri sendiri.

Sumber :
FB Ustadz Hilmi Firdausi
FP Kajian Hilmiyah



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dear Anakku"

Post a Comment