Hukum Berkata Bohong Dan Berbohong Yang Diperbolehkan Dalam islam

image : hipwee.com
Kata bohong menjadi salah satu kata yang tidak luput hubungannya dengan kehidupan sehari- hari. Hal semacam ini bukanlah tanpa ada alasan mengingat tiap-tiap orang pasti sempat berbohong. Sulitnya menghindari untuk berbohong yang menjadikan bohong jadi satu penyakit manusia sepanjang jaman yang demikian sulit untuk di hilangkan.

Hal yang layak disayangkan dalam hal semacam ini yaitu ada sebagian orang yang menjadikan berbohong jadi satu diantara hal kebiasaan  mereka. Bohong adalah satu diantara penyebab paling utama dari semua jenis permasalahan yang seringkali ditemukan pada kehidupan sehari- hari. Akibatnya karena bohong sendiri bukan sekedar berdampak dan merugikan hubungan dengan orang lain tapi juga dosa yang harus dipertanggung jawabkan.

Saat kebohongan telah menjalar dimana- mana dan menjadi kebiasaan, hal semacam ini bisa menyebabkan terjadinya rasa sama-sama tidak suka antar sesama. Bila sudah seperti ini maka asas kepercayaan dan saling tolong dan membantu antar sesama juga akan menghilang dengan sendirinya. Bukan sekedar itu, tetapi kebohongan dapat juga menyebabkan hilangnya rasa akrab antar rekan hingga terwujud situasi yg tidak nyaman. Dengan efek berbohong yang demikian besar, jadi tidaklah heran bila Islam melarang perbuatan jelek yang satu ini.

Berbohong bisa mengakibatkan seorang lakukan perbuatan keji seperti adu domba, sampai menebar fitnah kepada orang itu tidak melakukannya dan juga seperti menebarkan berita Hoax untuk keuntungan golongan tertentu.
Dalam islam umatnya diperintahkan untuk menjaga lidah dari perkataan bohong , hingga tiap-tiap mukmin mesti melindungi lisannya supaya senantiasa berkata yang baik baik saja.

Ada beberapa dalil tentang bohong ini yang dapat dijadikan sebagai panutan supaya terhindar dari perbuatan ini karena perbuatan ini sangat tidak disukai Allah. Hal ini tertuang dalam surat Al Israa’ yang berikut ini:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Israa’: 36)

Bohong bukan hanya merugikan diri sendiri dan orang lain,  namun juga membuat pelakunya  berdosa dan akan dimintai pertanggung jawabannya ketika di akhirat nanti.

Imam asy-Syinqithi berkata:

“Allah melarang dalam ayat yang mulia ini agar manusia tidak mengikuti apa yang dia tidak mempunyai pengetahuan di dalamnya. Termasuk di dalam hal ini adalah perkataan orang yang berkata: ‘Saya telah melihat’, padahal dia belum melihatnya. ‘Saya telah mendengar’, padahal dia belum mendengarnya. ‘Aku tahu’, padahal dia tidak mengetahuinya. Demikian pula orang yang berkata tanpa ilmu dan orang yang mengerjakan amalan tanpa ilmu, tercakup pula dalam ayat ini.” (Adhwa’ul Bayan, 3/145)

 
Berbohong Yang Diperbolehkan Dalam islam

Tidak selamanya berbohong ternyata dilarang, ada pula beberapa kebohongan yang diperbolehkan atau bahkan dianjurkan. Hal ini juga tertuang pada riwayat Al Imam Muslim yaitu:

ولم أسمع يرخص في شيء مما يقول الناس كذب إلا في ثلاث الحرب والإصلاح بين الناس وحديث الرجل امرأته وحديث المرأة زوجها

Artinya:

“Dan aku (Ummu Kultsum) tidak mendengar bahwa beliau memberikan rukhsoh (keringanan) dari dusta yang dikatakan oleh manusia kecuali dalam perang, mendamaikan antara manusia, pembicaraan seorang suami pada istrinya dan pembicaraan istri pada suaminya”. [Dinukil dari Riyadhush Sholihin, Bab. Al Ishlah bainan naas]

Rasulullah bersabda bahwa ada tiga jenis bohong yang diperbolehkan, malah menjadi wajib dalam situasi dan kondisi tertentu. Berikut ini tiga jenis Bohong Yang Diperbolehkan Dalam Islam Berdasarkan Hadist Rasulullah

1. Berohong dalam Rangka mendamaikan Saudaranya

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah dikatakan pendusta orang yang mendamaikan manusia (yang berseteru), melainkan apa yang dikata kan adalah kebaikan”. (Muttafaq ‘Alaih)

Bohong yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mendamaikan dua orang saudaranya yang sedang bermusuhan. Nah, ini jelas banget kan? Mungkin ada diantara kita punya dua orang temen yang saling bermusuhan. Dan tanpa sengaja, dua orang tersebut bercerita (curhat) kepada kita. Masing-masing dari mereka menjelek-jelekkan yang lain. Nah, dalam hal ini kita boleh tuh berbohong dengan mengatakan kalo yang mereka omongin tuh gak bener. Kita bisa berbohong pada masing-masing dari mereka dengan menceritakan kebaikan-kebaikan mereka pada masing-masing teman yang musuhan tadi. Hingga akhirnya, mereka berdua pun berdamai. Dan misi pun selesai.

2. Berbohong Dalam Keadaan Perang/Mara Bahaya

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membonceng Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di atas kendaraan beliau, maka jika ada seseorang yang bertanya kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah perjalanan, beliau mengatakan, “Ini adalah seorang penunjuk jalanku”. Maka orang yang bertanya tersebut mengira bahwa jalan yang dimaksud adalah makna haqiqi, padahal yang dimaksud oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah jalan kebaikan (sabîlul khair)”. Semata-mata demi kemaslahatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari ancaman musuh-musuh beliau.” (HR. al-Bukhari)

Bohong untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang terancam. Contohya, misalkan ada seseorang (sebut saja namanya fulan) hendak dibunuh oleh orang lain. Padahal kita tahu, orang tersebut tidak bersalah apa-apa. Si fulan meminta perlindungan kepada kita agar dirinya diselamatkan. Dan kita pun akhirnya mau menyembunyikannya. Setelah itu, datanglah orang yang bermaksud membunuh si fulan kepada kita. Tujuannya bertanya kepada kita untuk mencari keberadaan si fulan. Maka pada saat ini, kita boleh berbohong demi kebaikan agar nyawa si fulan terselamatkan.

3. Berbohong Dalam Rangka Menyenangkan Hati Istri/ Suami

Berkata Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah pada apa yang diucapkan oleh manusia (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni: perang, mendamaikan perseteruan/perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya”.

Bohong yang dilakukan suami untuk menyenangkan istrinya atau bohong yang dilakukan istri untuk menyenangkan suaminya. Contohnya begini ... Seorang suami yang membelikan hadiah sebuah baju untuk istri tercintanya. Karena sang suami gak terlalu tahu mode pakaian yang lagi ngetren (fashionable), maka sang suami membeli baju yang.. katakanlah sangat kurang enak dipandang. Modelnya sudah kuno. Ditambah lagi warnanya ngejreng bangeet. Namun sang suami bermaksud menyenangkan istrinya dengan memberikan hadiah buat sang istri tercinta. Nah, meskipun tahu kalo baju pemberiannya sangat jelek, namun istri yang bijak akan menerima dengan senang hati. Dalam hal ini, istri boleh berbohong bahwa pemberian sang suami adalah pemberian terbaik yang pernah ia dapatkan. Tujuannya tidak lain adalah agar suami merasa senang karena pemberiannya diterima dengan baik.

Atau ketika Istri Bertanya demikian kepada suaminya.

"Mas, aku cantik nggak?", tanya seorang istri kepada suaminya.

"Cantiiik banget. Kamu adalah wanita tercantiiikk yang pernah kulihat." jawab suaminya.
Dengan jawaban itu maka Istri pun tambah cinta kepada suaminya.

Bagaimana kalau dijawab sebaliknya? Silakan coba sendiri, resiko juga tanggung sendiri...

Demikian artikel tentang Bohong Yang Diperbolehkan Dalam Islam Berdasarkan Hadist Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat.

Wallahu A’lam al Bishawab



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hukum Berkata Bohong Dan Berbohong Yang Diperbolehkan Dalam islam"

Post a Comment